Pekejaan Jalan Sentra Produksi Bengkulu Selatan Gunakan DD Diduga Ada monopoli Kades

Laporan: Erwan Mursidi

Jum’at, 29 Maret 2019

Kilas, Bengkulu SelatanKabupaten Bengkulu Selatan Provinsi Bengkulu, Pada pengunaan Dana Desa (DD) di Desa Padang Pandan Kecamatan Manna, melaksanakan kegiatan pembuatan jalan sentra produksi, yang menelan dana sebesar Rp. 506. 891. 000,- tahun anggaran 2019.

Adapun item pekerjaannya yaitu pembuatan badan jalan sepanjang 2 KM dan penggalian siring cacing dananya sebesar Rp. 172.393.000, perkerasan sirtu dananya sebesar Rp. 288. 399. 000, plat decker dananya sebesar Rp. 26.114.000, dan siring pasang dananya sebesar Rp. 20.055.000. Kegiatan ini baru dikerjakan setelah uang tahap pertama dicairkan.

Berdasarkan hasil investigasi media online kilasbengkulu.com, dilapangan bahwa pekerjaan pembukaan jalan sudah selesai dilaksanakan akan tetapi sisa tanah bekas galian bolduser (alat berat) itu hanya diletakan disisi kanan kiri badan jalan dan kedalaman penggaliannya pun ada dugaan tidak sesuai dengan spek (RAB), disamping itu juga lebar badan jalan diperkirakan bervariasi ada yang 6 Meter, 5 M dan 4,5 M, Sementara Untuk pekerjaan siring cacing baru tahap pengerjaan,  dilakukan oleh masyarakat sekitar berkisar jumlahnya 6 orang dan pekerja dilakukan tukang propesional diluar daerah yang berkisar jumlahnya 14 orang, Sedang pekerjaan pekerasan sirtu sedang dalam tahap pengkutan matrial.

Setelah media kilas bengkulu melakukan konfermasi dengan kades padang pandan Iskandar. Menurut kades, untuk pekerjaan pembukaan badan jalan sudah selesai dikarenakan sudah dilakukan pengukuran tim dari dinas PUPR dan penamping teknis, mengenai sisa tanah galian menggunakan bolduser diletakan disisi kanan kiri badan jalan karena dalam spek tidak ada ongkos angkut untuk memindahkan tanah tersebut, untuk biaya sewa alat dianggarkan dana sebesar 75 juta.

“Setelah hasil negosiasi saya dengan punya alat berat mendapatkan kesepakatan sebesar 72 juta sehingga ada sisa dari penyewaan alat berat sebesar 3 juta, sisa uang 3 juta rersebut dijadikan silva, Sedangkan pekerjaan siring cacing sepanjang 4000 Meter, itu semua dilakukan oleh masyarakat saya dengan upah penggalian 12 ribu permeter”, ujar kades

Lanjut Kades, untuk pengangkutan sirtu menggunakan dam truk saya sendiri dengan muatan kurang lebih 6 kubik, untuk biaya sekali angkut berkisar antara Rp. 600 Ribu hingga Rp. 700 Ribu, berdasarkan jarak tempuh angkutan. Sedangkan sirtu yang digunakan sirtu yang sudah diayak dan harga dikuari Rp. 70 Ribu perkubik, tempat saya mebeli di kuari beladi (salah satu anggota DPRD BS) kilah iskandar sambil menutup pembicaraan.

Diduga dengan banyaknya ikut campur tangan kades dalam kegiatan ini seperti penyewaan alat berat hasil negosisasi kades, mendatangkan tenaga tukang propesional untuk penggalian siring cacing itu dilakukan oleh kades sendiri dan pengangkutan material sirtu dalam pekeraan pekerasan menggunakan dam truk kades sendiri, dengan demikian seolah-olah ada dugaan kades memonopoli pekerjaan sehingga dikuatirkan terjadinya KKN dan menyalai aturan juknis.

Dari hasil pantauan dilapangan masyarakat desa setempat berharap kades harus lebih terbuka lagi tentang kegiatan, setiap kami menanyakan pekerjaan dan mana RAB kades menjawabnya bukan urusan kalian dengan nada emosi”, kata masyarakat tersebut waktu media online kilasbengkulu dilokasi pekerjaan.

Sampai berita ini terbit pekerjaan penggalian siring cacing terus dilakukan akan tetapi untuk pengangkutan sertu tidak nampak aktivirasnya.

Editor : Redaksi

Baca Juga

Terkait Korupsi Dua Orang Sudah Di Vonis, Berkas Sekwan Seluma Segera Dilimpahkan Kejaksaan

Laporan : Edi Yanto Rabu, 21 Oktober 2020 Kilas Bengkulu – Kabid Humas Polda provinsi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *