Era Bupati Mian, Lurah Purwodadi BU pertanyakan Statement Kepala Bapeda

Laporan : Rozi HR

Jum’at, 22 Maret 2019

Kilas, Bengkulu UtaraEra pemerintahan Bupati Ir.Mian, Kisruh hutang piutang seragam hansip (LINMAS) di setiap TPS menjelang pemilu 17 April 2019, semangkin memanas, khususnya di wilayah 5 kelurahan se Kabupaten Bengkulu Utara, Kelurahan Purwodadi, gunung alam, lais, kemumu dan lubuk durian yang anggarannya masih misterius / tidak jelas, pada hal dari lurah – lurah tersebut awalnya diperintahkan untuk menyediakan pengadaan Seragam Linmas, demi pencitraan pemerintah daerah para lurah berani ngutang ke penjahit dulu, pada ahirnya menjadi masalah.

Menanggapi statement kepala Bappeda kabupaten Bengkulu Utara, lurah Purwodadi pertanyakan statement pejabat eselon dua Siti Koriah, ingin melihat pembuktian para lurah ingin mengundurkan diri dari jabatan, silakan mundur masih banyak yang antri untuk menjabat.

“Saya sudah empat kali mengajukan surat pengunduran diri sebagai lurah Purwodadi, tapi di tolak oleh ibu camat kota argamakmur dan bahkan sudah empat kali juga saya sampaikan dengan Bupati Bengkulu Utara Ir. Mian di muka umum,” ungkap yenrizal (Lurah Purwodadi) dengan nada kesal kepada awak media, di ruang kerja lurah gunung alam 22/3.

Sebagai pejabat publik, seharusnya dapat mempertimbangkan dan berpikir secara rasional, karena permasalahan inikan urusan utang yang di bebankan dengan kami. Tanggal 30 April apa bila hutang seragam hansip (LINMAS) tidak dapat di bayar, dalam pernyataan tersebut kami siap di bawak ke ranah hukum, lanjut yenrizal.

Kami bukan haus jabatan, seharusnya sebagai penyambung tangan Bupati, mari kita duduk bersama untuk menyelesaikan hutang yang di bebankan dengan kami, permasalahan ini bukan serta merta untuk kepentingan pribada namun daerah, dan bukan pula kami ingin menjadi PA, awal permasalahan ini kami di mintak camat membuat RKA di masing-masing kelurahan, dengan harapan anggaran tersebut dapat di realisasikan, ternyata dana tersebut bukan bersumber dari APBD melainkan APBN, yang sampai saat ini belum ada kepastian ungkap lurah Purwodadi dan gunung alam kepada awak media dengan nada kesal menyikapi stetement kepala Bappeda kabupaten Bengkulu Utara di nilai arogan.

“Kalaupun kami mengajukan pengunduran  diri bukan dengan kepala Bappeda, melainkan hanya kepada pak Bupati, pembangunan Bengkulu Utara ini tidak cukup dengan pembangunan pisik, yang harus di sertakan dengan pembangunan sumber daya manusianya,”.

Kini tinggal masyarakat yang menilai apa alasan kami ingin mengundurkan diri dan apa alasan ibu Siti selaku kepala Bappeda melontarkan kata-kata yang seolah-olah menjadi penentu kebijakan daerah (Bupati) tutup Yenrizal selaku Lurah.

Editor : Redaksi

Baca Juga

Kerja Keras Sekretariat Dan Lembaga DPRD BU, Sebagai Pelopor JDIH Di Provinsi Bengkulu Menuai Penghargaan

Laporan : Edi Yanto Rabu, 20 Januari 2021 Kilas Bengkulu, Utara – Kerja keras sekretariat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *